Bahasa Daerah Terancam Punah; Mengapa?

Modernitas yang sarat akan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan telah mengubah jalan hidup banyak orang dan cara mereka berkomunikasi. Bahasa daerah kian lama, semakin ditinggalkan dalam komunikasi, dicampakan karena cenderung dianggap kuno, terbelakang, "kampungan". Setidaknya itulah fenomena yang nyata di kalangan masyarakat modern saat ini. Masyarakat yang katanya maju dan beradab itu lebih bangga melisankan bahasa Indonesia yang dicampur bahasa asing dalam keseharian. Hal itu membuat tutur bahasa daerah mereka tak lagi tertata dalam budaya yang sehat.

Pakar linguistik dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Multamia Lauder, mencatat ada 25 bahasa daerah di Indonesia yang berstatus hampir punah. Diantaranya adalah Aputai, Burumakok, Duriankere, Emplawas, Kaibobo, Kanum, Badi, Kayupulau, Kembra, Kwerisa, Lengilu, Lolak, Melayu Bacan, Mandar, Massep, Mlap, Morori, Namla, Paulohi, Petjo, Ratahan, Salas, Taje, Tobati dan Woria.

Sejatinya, bahasa daerah adalah bahasa yang terkait akan latarbelakang etnis, suku, budaya, yang begitu kaya di Indonesia. Bahasa daerah mencerminkan identitas bangsa ini, cermin kita sebagai bangsa yang kaya akan budaya dan bahasa. Betapa tidak, bangsa Indonesia memiliki 706 bahasa dan 266 diantaranya berstatus bermasalah. Bahkan ada 13 bahasa yang sudah punah karena sudah tidak ada lagi penuturnya, yaitu bahasa Hoti, Hukumina, Hulung, Loun, Mapia, Moksela, Naka'ela, Nila, Palumata, Saponi, Serua, Ternateno dan Te'un.

Mengapa Bahasa Daerah tersebut terancam punah?


Seperti yang dikutip dari AntaraNEWS (31 okt 2015)  Multamia memaparkan masalah bahasa terjadi di Indonesia bagian timur karena begitu banyak bahasa yang ada di sana namun hanya sedikit penuturnya. Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan Indonesia bagian barat, sedikit bahasa tapi banyak penutur. Misalnya Bahasa Jawa yang memiliki 80 juta penutur.

Selain itu, menurut Ivan Sulistiana pudarnya bahasa daerah tersebut tak lepas dari determinasi faktor internal yang berasal dari masyarakat Indonesia sendiri, dan faktor eksternal yang berasal dari luar masyarakat. Setidaknya, di antara faktor-faktor internal tersebut antara lain:

1. Melemahnya Bahasa Ibu dalam Keluarga

Orang tua merupakan agen utama dalam menjembatani anak terhadap etnis, budaya, serta bahasa daerahnya. Namun kebanyakan orang tua saat ini tidak lagi menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa primer ketika berkomunikasi di rumah. Remaja Ibu Kota pun jarang menggunakan bahasa daerah karena mereka terbiasa bergaul dengan sesama yang datang dari berbagai daerah dan berbeda suku bangsa. Dirumah dan di sekolah atau dilingkungan tempat mereka biasa berkumpul pun, mereka berbahasa Indonesia.

2. Disorientasi Kurikulum Pendidikan

Kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi lebih memprioritaskan bahasa Indonesia dibandingkan bahasa daerah. Bahkan bahasa asing seperti bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Mandarin dan Jepang dinilai lebih berharga ketimbang bahasa daerah. Memang di beberapa sekolah di tingkat kabupaten masih menyertakan bahasa daerah dalam kurikulumnya, namun itu tak lebih dari sekedar muatan lokal (mulok) saja yang diajarkan tak lebih dari dua jam mata pelajaran dalam seminggu. Ketimpangan ini didorong oleh hasrat untuk dapat berkontestasi di era modern. Orientasi pendidikan yang berusaha menjunjung bahasa nasional dan internasional telah mengkebiri urgensi bahasa daerah menjadi bahasa marjinal.

3. Kurangnya Kesadaran Generasi Muda

Generasi muda lebih suka melestarikan bahasa gaul dan bahasa asing ketimbang bahasa daerahnya sendiri. Budaya dan nilai-nilai yang berlaku pada anak muda saat ini telah mengenyampingkan bahasa daerah. Tak ada lagi kesadaran bahwa bahasa daerah adalah warisan budaya luhur yang harus dilestarikan.

Ketiga faktor internal tersebut telah menguliti bahasa daerah secara perlahan hari demi hari. Dinamika masyarakat modern saat ini mematikan perkembangan bahasa daerah, bahkan membunuhnnya pelan-pelan. Selain faktor internal itu, kita pun perlu melihat faktor eksternal yang bertanggung jawab atas pudarnya bahasa daerah ini, antara lain: (1) Modernisasi dan Globalisasi; (2) Eksistensi Bahasa Asing di Indonesia; dan (3) Dominasi Kultural.

Menurut Prof. Dr. Multamia Lauder, perlu ada program yang komprehensif dari pemerintah untuk menyelamatkan bahasa yang bermasalah agar tidak ikut punah seperti 13 bahasa tersebut di atas. Perlu ada kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah setempat dan lembaga pendidikan misalnya universitas setempat untuk mendatangi tiap daerah dan melihat permasalahan yang ada. Masyarakat pun perlu dilibatkan dalam pelestarian bahasa karena mereka yang menggunakannya.

Bukankan bahasa daerah adalah identitas bangsa Indonesia? Warisan leluruh bangsa? Kekayaan bangsa kita? Maka, sepatutnya masyarakat Indonesia harus membuka mata, membuka hati, dan kembali menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari. Kalau bukan bangsa ini sendiri yang tergerak melestarikan, tak akan ada bangsa lain yang sudi melestarikannya.

"Kembalikan titah bahasa daerah, bahasa ibumu, warisan bangsamu ke harkat singgasana yang luhur" - Ivan Sulistiana

Related Post:

Belum ada komentar untuk "Bahasa Daerah Terancam Punah; Mengapa?"

Post a Comment