Gaya Bahasa (Majas) Resolusi 2016

Mengawali Tahun 2016, biasanya sebagian besar orang berlomba-lomba membuat resolusi tentang gaya rambut baru, gaya fashion baru, gaya hidup baru, dan gaya-gaya baru lainnya. Namun, lain halnya dengan sastra-sekura, resolusi 2016 sastra-sekura kali ini akan membahas tentang gaya bahasa atau lebih sering disebut dengan majas. Apa yang dimaksud dengan gaya bahasa atau majas tersebut? dan bagaimana jenis-jenis gaya bahasa tahun 2016 menurut sastra-sekura? Berikut penjelasannya:

Menurut sumardjo dan Saini (1991:127) Gaya Bahasa atau Majas adalah cara menggunakan bahasa agar daya ungkap atau daya tarik atau sekaligus kedua-duanya bertambah, sedangkan menurut Keraf (1991:113) gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis/pemakai bahasa. Selanjutnya Ambari (1983:124) yang menyatakan bahwa gaya bahasa merupakan alat utama yeng bersifat melukiskan, menggambarkan, menegaskan, suatu pendapat dalam gelanggang sastra.

Gaya bahasa atau majas adalah cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan atau lisan. Kekahasan dari gaya bahasa ini terletak pada pemilihan kata-katanya yang tidak secara langsung menyatakan makna yang sebenarnya.

Penyampaian pikiran dan perasaan dengan menggunakan gaya bahasa akan terasa lebih menyentuh hati penerimanya. Meskipun demikian, penggunaan bahasa yang berlebihan akan menyebabkan tidak jelas (kabur) makna yang disampaikan. Adapun tujuan menciptakan gaya bahasa dalam puisi atau karya sastra adalah antara lain; (1) agar menghasilkan kesenangan yang bersifat imajinatif, (2) agar menghasilkan  makna tambahan, (3) agar dapat menambah intensitas dan menambah konkrit sikap dan perasaan penyair dan (4) agar makna yang diungkapkan lebih padat (Djojosuroto, 2005:17).

Gaya bahasa atau majas merupakan dua istilah yang berbeda namun memiliki kesamaan pengertian. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa gaya bahasa atau majas adalah cara pengungkapan pikiran dan perasaan secara khas melalui bahasa sehingga menimbulkan efek tertentu dalam pikiran pembaca maupun pendengar.


Gaya bahasa atau majas pada garis besarnya dapat dibedakan menjadi empat kelompok. Adapun jenis-jenis gaya bahasa (majas) tersebut, antara lain:

1. Gaya Bahasa Perbandingan 

a. Alusio adalah majas yang menggunakan ungkapan yang tidak diselesaikan karena selain ungkapan itu sudah dikenal, ada maksud yang ingin disampaikan secara tersembunyi.
Contoh: ah, kau ini seperti kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.

b. Simile adalah pengungkapan yang membandingkan dua hal yang berbeda dengan menggunakan kata penghubung seperti layaknya, bagaikan, bagai, saperti.

c. Metafora
adalah gaya bahasa yang membandinkan sesuatu benda dengan benda lainya, kedua benda yang dibandingkan memiliki sifat yang  sama (Badudu, 1975:70), sedangkan menurut Ambari (1983:125) adalah perbandingan langsung sebuah benda yang dibandingkan secara langsung dengan benda lianya yang memiliki sifat yang sama dengan benda yang sebelumnya. Jadi dapat kita simpulkan bahwa metafor adalah gaya bahasa yang membandingkan benda yang lain secara langsung dan kedua benda yang dibandingkan itu mempunyai sifat yang sama. Contoh: Generasi muda tulang punggung negara. (generasi muda dianalogiskan sebagai tulang penggung)

d. Antropomorfisme adalah bentuk metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
Contoh: setelah sampai di kaki gunung ia duduk di mulut sungai.

e. Aptronim adalah pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
Contoh: karena sehari-hari ia berkerja sebagai kusir gerobak, ia di panggil karto grobak.

f. Metonemia adalah bentuk pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas atau menjadi atribut.
Contoh: belikan aku gudang garam filter.

g. Litotes, apabila kita mempergunakan kata yang berlawanan artinya dengan yang dimaksud, dengan tujuan merendahkan diri terhadap orang yang diajak bicara (Badudu, 1975:74), sedangkan Tarigan (1985:58) berpendapat litotes adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang dikecil-kecilkan. Jadi dapat kita simpulkan bahwa litotes  adalah ungkapan berupa mengecilkan fakta dengan tujuan untuk merendahkan diri.
Contoh: mampirlah ke gubuk kami

h. Hiperbola, apabila sepatah kata diganti dengan kata lain yang memberikan pengertian lebih hebat dari pada kata tadi, maka gaya bahasa seperti itu disebut gaya bahasa hiperbola( Badudu, 1975:75), selanjutnya Tarigan megungkapkan bahwa hiperbola merupakan sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan jumlahnya, ukuranya, atau sifatnya dengan maksud memberikan penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan, dan pengaruhnya, gaya bahasa ini melibatkan kata-kata, frase atau kalimat (1985:55) atau pengiasan  adalah cara pengungkapan dengan melebih-lebuhkan kenyataan, sehingga kenyataan itu menjadi tidak masuk akal.
Contoh: hatiku hancur mengenang dikau, berkeping-keping jadinya.

i. Personifikasi atau pengiasan adalah cara pengungkapan dengan menjadikan benda mati atau tidak bernyawa sebagai manusia.
Contoh: angin mendesah, mengeluh, mendesah.

j. Pars pro toto adalah sinekdot berupa pengungkapan sebagai dari objek untuk menunjukan keseluruhan objek tersebut.
Contoh: tatapan matamu telah meruntuhkan hatiku.

k. Totum pro parte adalah sinekdot berupa pengungkapan keseluruhan obyek padahal yang dimaksud hanya sebagian saja.
Contoh: Amerika Serikat menuduh Iran campur tangan soal Irak.

l. Eufemisme adalah kata yang diganti kata-kata yang dopandang tabu atau kasr dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
Contoh: kaum tuna wisma makin bertambah saja di kotaku.

m. Fabel adalah menyatakan prilaku binatang senagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
Contoh: menetahui bahwa kelinci telah menipunya, geramlah hati harimau.

n. Simbolik yaitu melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan suatu maksud.
Contoh: lelaki, buaya darat, aku tertipu lagi. (buaya darat adalah simbol laki-laki hidung belang)

2. Gaya Bahasa  Sindiran
a. Ironi, gaya bahasa ironi adalah salah satu gaya bahasa sindiran yang dikatakan sebaliknya dari apa yang sebenarnaya dengan maksud menyindir orang tempat berbicara (Badudu. 1975:77), sedangkan  menurut Maeliono (dalam  tarigan, 1985:61) ironi gaya bahasa yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud berolok-olok.
Maksud itu dapat dicapai dengan mengemukakan;
1. makna yang berlawanan dengan makna yang sebenarnya;
2. ketaksesuaian antara suasana yang diketengahkan dan kenyataan yang mendasari;
3. ketaksesuaian antara harapan dengan kenyataan;
Dengan demikian ironi adalah gaya bahasa yang menyatakan bukan dengan makna yang sebenarnya dengan maksud menyindir atau berolok-olok orang tempat berbicara. 
      Contoh: rasanya sebentar saja kau pergi (padahal telah lebih dari  satu jam)

b. sarkasme adalah sindiran langsung dan kasar. Memaki orang dengan kata-kata yang kasar dan tak sopan didengar telinga biasanya diucapkan oleh orang yang sedang marah (Badudu, 1975:78). Sedangkan menurut (Ambari, 1983:127) sarkasme merupakan gaya bahasa yang kasar sekali, memaki-maki dengan kata-kata yang tak dipergunakan orang-orang yang sopan. Biasanya dipakai kalau datang mendidih. Dengna demikian sarkasme adalah gaya bahasa sindiran yang terkasar yang mengandung sindiran pedas yang menyakitkan hati. 
Contoh:-nyawamu barang pasar, hai, orang bebal!
          -hai anjing, pergilah darai sini sebelum ku lempar keluar!

c. sinisme, gaya bahasa sinisme juga merupakan gaya bahasa sindiran tetapi lebih kasar dari pada ironi. Boleh menggunakan kata yang mengandung arti sebaliknya seperti ironi, tetapi dalam nada suara orang yang berkata terdengar dengan nada sindiran yang kasar (Badudu, 1975:77).
Contoh: tak usah kau perdengarkan suaramu yang merdu dan memecahkan telinga itu.

d. innuendo adalah sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.
Contoh: karena ia menyisihkan selembar dua lembar kertas kantor. Ia kini telah membuka toko alat-alat tulis.

3. Gaya Bahasa Penegasan

a. Apofasis adalah penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
Contoh: saya tidak sampai hati untuk mengatakan bahwa banyak kawan-kawan kita yang tidak menyukaimu.

b. Pleonasme, merupakan gaya bahasa penegasan dengan menggunakan sepatah kata yang tidak perlu, karena kata yang digunakan itu telah terkandung pada kata sebelumnya (Periksa Tarigan, 1985, Keraf, 1987 dalam Martono, 2010:73)
Contoh: majulah engkau ke depan dan kemudian mundurlah engkau ke belakang.

c. Repetisi adalah perulangan bunyi, kata, frase dan klausa  yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai (Keraf, 1991:127)
Contoh: salah,salah, angin dari sana. Kamu tukar tempat, teriaknya.

d. Tautologi adalah gaya bahasa melukiskan suatu maksdu dengan mengulang penyebutan sinonim atau kata berurutan untuk menekankan arti (Badudu, 1975:80).
Contoh: betapa hatiku sedih dan duka mengetahui nilai rapotku tidak terlalu baik. 

e. Antanaklasis adalah pengungkapan dengan menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
Contoh: bapak kepala sekolah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. 

f. Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung penekanan (Periksa Freeborn, 1996; Keraf, 1987; Tarigan, 1987; dalam Martono, 2010; 75). 
Contoh: jangankan baju baru, sepeda motor baru atau rumah baru aku sanggup membelikan untukmu.

g. Antiklimak merupakan gaya bahasa yang mengatakan beberapa hal atau peristiwa berturut-turut dari yang besar hingga yang kecil, dari yang penting hingga yang kurang penting, jadi makin menurun (Keraf, 1987:128).
Contoh: apalagi mencurahkan segala pikiran dan tenaga, menyediakan diri untuk membantu orang lain saja ia tak mau.

h. Koreksio adalah gaya bahasa penegasan yang dipakai menegaskan dengan membetulkan kembali apa yang salah, yang sudah diucapkan baik sengaja atau tidak (Ambari, 1983:129).
Contoh: bukankah kau putri pak lurah, ah maaf, putri pak bupati.

i. Eksklomasio adalah ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
    Contoh:  lho, mbakyu kalau begini aku harus bagaimana?

j. Asidenton adalah suatu gaya yang berupa acuan yang bersifat padat dan mampat dimana beberapa kata, frasa atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung, bentuk-bentuk itu biasanya dipisahkan saja dengan tanda koma (Keraf, 1991:131).
Contoh: tak perlu saya sebutkan siapa orangnya, kamu sudah tahu.

4. Gaya Bahasa Pertentangan
Menurut Ambari (1983:129) macam-macam majas pertentangan, antara lain;

a. Paradoks adalah cara pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
Contoh: aku sangat menderita dalam pertemuan yang membahagiankan ini.

b. Antitesis adalah pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainya.
Contoh: kenyang, miskin atau kaya, cantik atau jelek

c. Kontradiksi interminus adalah pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
Contoh: memang semua persoalan yang kita hadapi amat sukar kita pecahkan, kecuali masalah-masalah yang sederhana.

Demikian gaya bahasa resolusi 2016 menurut sastra-sekura, semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Related Post:

2 Tanggapan untuk "Gaya Bahasa (Majas) Resolusi 2016"