Selamat jalan Prof Badudu sosok Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), mahaguru Linguistik tercinta

Prof. Dr. H. Jusuf Sjarif Badudu yang lebih dikenal dengan nama Jus Badudu atau J.S. Badudu, lahir di Gorontalo 19 Maret 1926. Guru Besar Linguistik di Universitas Padjadjaran dikenal sebagai sosok Bahasa Indonesia sesuai ejaan yang disempurnakan (EYD) juga dikenal luas masyarakat Indonesia sebagai pembawa acara Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI (1974-1979).

Dalam usia tiga belas tahun (1939) Badudu manamatkan Sekolah Rakyat di Ampana, Sulawesi Tengah. Kemudian, ia mengikuti kursus Volksonderwijser/CVO di Luwuk, Sulawesi Tengah (1941). Tahun 1949 ia menyelesaikan pendidikan Normaal School di Tentena, Sulawesi Tengah. Ia melanjutkan sekolah di KweekschooI/SGA, Makassar, Sulawesi Selatan dan tamat pada tahun 1951. Tahun 1955 ia menyelesaikan pendidikan B.1 Bahasa Indonesia di Bandung dan menyelesaikan pendidikan S1-nya di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung (1963). Tahun 1971—1973 Badudu melanjutkan pendidikan pada Postgraduate Linguistics di Leidse Rijksuniversiteit Leiden, Belanda. Tahun 1975 ia memperoleh gelar Doktor Ilmu Sastra dengan pengkhususan linguistik di Universitas Indonesia, Jakarta, melalui disertasi yang berjudul "Morfologi Kata Kerja Bahasa Gorontalo".

Keilmuan JS Badudu ternyata diawali dengan ketidaksukaannya dengan Bahasa Indonesia. Seiring berjalannya waktu, kecintaannya terhadap Bahasa Indonesia pun terjadi ketika JS Badudu menjadi guru di Kota Bandung. "Almarhum mendapat kepercayaan untuk mengajar di Kota Bandung, tapi untuk bidang Bahasa Indonesia yang sebetulnya tidak diinginkannya. Beliau sebenarnya meminta di bidang ilmu pasti atau alam. Tetapi karena keinginannya untuk maju, beliau menerima penugasan tersebut," ujar anak keenam JS Badudu, Rizal I Badudu, kepada wartawan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Jalan Pahlawan, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (13/3/2016).

Beliau adalah sosok guru sejati. Seluruh hidupnya diabdikan untuk mencerdasakan anak bangsa. Sebagai orang yang sangat peduli terhadap  dunia pendidikan, khususnya pendidikan bahasa Indonesia, beliau telah mengabdikan diri sebagai guru sejak usia 15 tahun 5 bulan. Beliau menjadi guru sekolah dasar di Ampana, Sulawesi Tengah hingga tahun 1951. Pada tahun 1951—1955 ia menjadi guru SMP di Poso, Sulawesi Tengah, dan pada tahun 1955—1964 menjadi guru SMA di Bandung. Ia juga pernah menyumbangkan tenaga sebagai dosen di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 1965–1991.

Sejak Tahun 1982, Beliau menjadi guru besar linguistik pada Program Pascasarjana (S-2 dan S-3) Universitas Padjadjaran Bandung dan Universitas Pendidikan Indonesia. Beliau juga menjadi guru besar di Universitas Pakuan Bogor sejak tahun 1991 dan di Universitas Nasional Jakarta sejak tahun 1994. Beliau juga pernah, selama tiga tahun, menatar guru-guru sekolah dasar di enam Provinsi (Sumatera Barat, D. I. Aceh, Sulawesi Utara, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan D.I. Yogyakarta) dalam proyek PEQIP (Prelimenary Education Quality Improvement Project), sebuah lembaga bantuan Jerman yang bekerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Tahun 1995—1997, ia mengunjungi setiap provinsi itu 2 kali dalam setahun.

Setelah pensiun, beliau tetep aktif sebagai guru, dosen, penatar bahasa Indonesia, uga aktif sebagai penulis artikel tentang bahasa Indonesia di surat kabar dan majalah. Ratusan tulisan pemikirannya telah tersebar di berbagai media massa. Sejak tahun 1977 beliau menjadi penulis atau pengisi rubrik tentang pembinaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di majalah Intisari Jakarta. Keaktifan Badudu menulis buku-buku yang berisi tuntunan tentang penggunaan bahasa Indonesia untuk pelajar, mahasiswa, dan umum, dapat dibaca melalui karya-karyanya. Salah satu buku yang terkenal ialah Pelik-Pelik Bahasa Indonesia yang terbit pertama kali pada tahun 1971 dan mengalami cetak ulang berkali-kali.

Sebagai guru dan dosen bahasa Indonesia selama 49 tahun, Beliau pernah menerima bintang jasa Pemerintah RI, yaitu Satyalencana 25 tahun Pengabdian dan Bintang Mahaputra yang diserahkan sendiri oleh Presiden Megawati Sukarnoputri pada tanggal 15 Agustus 2001 di Istana Negara. Bintang jasa tersebut diberikan pemerintah sebagai penghargaan atas jasanya membina bahasa Indonesia selama bertahun-tahun bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

12 Maret 2016 tepat puku 22.10 beliau Wafat di Rumah Sakit Hasan Sadikin dalam usia 89 tahun atau tepat 7 hari menjelang usianya yang ke 90 tahun. Beliau berpulang meninggalkan 9 anak, 9 menantu, 23 cucu, dan 2 cicit. Istri tercinta beliau telah berpulang terlebih dahulu pada bulan Januari 2016.

Sastra-sekura sebagai tempat mencari makna berbahasa Indonesia menyampaikan duka cita yang sangat mendalam atas berpulangnya Almarhum Prof. Dr. Jusuf Syarief Badudu. Semoga seluruh ilmu yang telah beliau berikan menjadi amal ibadah yang tiada henti bagi almarhum dan semoga seluruh keluarga yang ditinggalkan tabah atas kepergian ini.


Selamat jalan Prof Badudu sosok Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), mahaguru Linguistik tercinta..

Related Post:

Belum ada komentar untuk "Selamat jalan Prof Badudu sosok Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), mahaguru Linguistik tercinta"

Post a Comment