Sastra Logika dan Logika Karya Sastra

Karya sastra mempunyai logika tersendiri. Logika karya sastra erat kaitannya dengan konvensi karya sastra. Logika karya sasta mencakup isi dan bentuk karya sastra. Bentuk pantun setiap bait terdiri atas empat baris. Setiap baris terdiri dari empat kata atau sembilan sampai sepuluh suku kata. Persajakan ab ab. Dari isinya terdiri dari baris satu dan dua hanya merupakan pengantar (sampiran), sedangkan isinya ada pada baris ketiga dan keempat. Semua itu merupakan logika puisi yang disebut pantun. Berubah sedikit saja, berubah pula logikanya. Jika semua berupa isi, maka karya sastra itu disebut syair.

Dalam puisi ada yang tidak masuk akal jika menggunakan logika biasa. Tetapi masuk akal dalam logika puisi. Dalam logika biasa tidak mungkin lembaran daun berbunyi gemerincing apalagi berbunyi lonceng sekolah, tetapi dalam logika puisi lembaran daun berbunyi gemerincing seperti lonceng sekolah justru logis. Dalam tersunyian, sedikit saja usikan akan terasa besar akibatnya hingga daun yang jatuh tak pernah membenci angin.

Hal yang sama juga ditemukan dalam karya sastra bernama novel. Penggambaran tokoh yang tubuhnya digambarkan seperti terbuat dari besi, tidak bisa mati atau kebal peluru bahkan hampir seperti setan tetap masuk akal dalam logika novel. Kenyataan sehari-hari penggambaran tokoh seperti tersebut sangat-sangat tidak masuk akal. Namun dalam novel, penggambaran tokoh seperti itu diperlukan untuk menekankan tema novel. Oleh karena itu, logika dalam karya sastra dinilai dalam kaitannya dengan penyajian karya sastra. Bukan dengan menggunakan ukuran logika di luar sastra.

Bukan hias yang buat indah
Rangkaian cerita klise terus dibolak-balik
Muak, kami penat
Tak bosankah terus berkawan kepalsuan
Tipu saja sampai malu
Biar petir sambarmu hingga kaku

Pelangi saja jadi kelam
Sampai hilang harmoni malam 
Oh, atau mungkin bukan maksudmu
Jadi kami yang keliru
Lalu mau dibuat lagu mengharu biru?
Kami bukan jelata logika! Jelas kamu bermandikan dusta dalam bisu

Lelah sudah bicara ini itu
Isyarat kami hanya berakhir debu
Tertiup ego dalam aroganmu
Ya sudah lah, kami berbaring saja
Biar esok lusa menjawabkan semua
Apa memang kau terdakwa yang sandiwara jadi buta?

Bukan Jelata Logika - oleh Deani Indriani

Karya sastra merupakan dunia rekaan (fiksi). Kata fiksi mempunyai makna khayalan, impian, jenis karya sastra yang tidak berdasarkan kenyataan yang dapat dipertentangkan dengan nonfiksi (true story). Dalam kenyataannya, karya sastra bukan hanya berdasarkan khayalan, melainkan gabungan kenyataan dan khayalan. Semua yang diungkapkan sastrawan dalam karya sastranya adalah hasil pengetahuan yang diolah oleh imajinasinya.

Sastrawan memperlakukan kenyataan dengan tiga cara, yaitu: manipulasi, artifisial, dan interpretatif. Hanya kadar kenyataan dalam karya sastra yang berbeda untuk setiap karya sastra. Karya sastra yang bersifat biografis, otobiografis, historis, catatan perjalanan, kadar kenyataannya lebih dominan.

Karya sastra mempunyai nilai keindahan tersendiri. Karya sastra yang tidak indah tidak termasuk karya sastra. Karya sastra adalah sebuah nama yang diberikan masyarakat kepada hasil karya seni tertentu. Hal ini mengisyaratkan adanya penerima secara mutlak oleh masyarakat sastra. Penerimaan bukan berarti karya sastra harus diterima oleh masyarakat dan sesuai dengan selera masyarakat. Sebagai contoh, saat Siti Norbaya terbit, novel itu dianggap indah. Keadaan menjadi lain seandainya novel itu diterbitkan sekarang (zaman bukan siti norbaya).

Karya sastra yang baik juga tidak selalu sulit dipahami. Segala sesuatu yang dikatakan oleh masyarakat sastra sebagai karya sastra pada suatu masa pada hakikatnya bisa dikelompokkan sebagai karya sastra. Bagaimanapun baiknya suatu karya sastra berdasarkan objeknya dan dimaksud oleh penulisnya sebagai karya sastra bila masyarakat sastra menolaknya karena alasan yang logis dan tidak logis maka hasilnya bukan karya sastra.


“Setiap karya sastra tidak pernah terlepas dari estetika, etika dan logika. Ketiga unsur tersebut harus diperhatikan dalam penulisan karya sastra seperti puisi, cerpen, novel maupun drama. Estetika merupakan nilai keindahan dalam pemilihan diksi, larik maupun kalimat dalam tulisan, kemudian etika dalam karya tulis tidak boleh bertentangan dengan norma agama dan adat dalam lingkungan masyarakat, dan selanjutnya setiap karya sastra harus sesuai dengan logika. Oleh karena itu seorang sastrawan harus memiliki imajinasi yang tinggi, imajinasi adalah daya fikir seseorang bukan menghayal” - Sulaiman Juned 

Related Post:

Belum ada komentar untuk "Sastra Logika dan Logika Karya Sastra"

Post a Comment