Main Guli: Nilai Kebudayaan dan Pendidikannya dalam Permainan Rakyat

Permainan rakyat yang ada di desa sekura (kab.sambas) ada yang mirip dengan permainan yang ada di daerah lain, hanya istilahnya yang berbeda. Permainan yang ada memiliki nilai-nilai yang dapat diambil oleh masyarakat tanpa konsep yang membatasinya. Artinya, masyarakat secara tidak sadar mengambil manfaat tersebut walaupun tidak mengetahui teorinya.

Permainan pertama yang akan dipaparkan adalah permainan kelereng. Dalam bahasa Melayu sekura (kab.sambas) dikenal dengan nama “guli”. Permainan guli, yang juga dinamakan sebagai Kelereng, merupakan permainan tradisional melayu yang digemari oleh kanak-kanak pada masa lapang mereka. Ia biasanya dimain oleh kanak-kanak lelaki yang berumur antara tujuh hingga dua belas tahun. Mereka biasanya bermain di tempat yang teduh.  Bermaian guli merupakan suatu aktivitas yang menyenangkan karenan pemain dapat merasakan proses bermain secara kompetitif dengan pemain lain untuk mengumpulkan kelereng sebanyak-banyaknya.

Dalam permainan ini, terdapat beberapa jenis aplikasi permainan. Ada yang disebut oles, pal, apolo, ban, dan lain-lain. Para pemaian bebas menentukan jenis permainan yang menjadi pilihan berdasarkan kesepakatan. Kemenangan dari permainan ini dapat dilihat dari kelereng yang berhasil dikumpulkan oleh pemain. Sebagai contoh, pemaparan dan peraturan permainan kelereng jenis oles sebagai berikut.

  • Pemain harus menyiapkan sebuah lingkaran yang ditulis di atas tanah dengan panjang diameter yang disesuaikan dengan jumlah pemain.
  • Setiap pemain wajib memberikan kelereng sebagai taganan dengan jumlah yang sama setiap pemain berdasarkan hasil kesepakatan.
  • Kelereng dari tiap-tiap peserta disusun di dalam lingkaran yang sudah disiapkan.
  • Setiap pemain hanya boleh memegang satu buah kelereng sebagai kelereng induk atau dalam istilah permainan ini disebut gucu’.
  • Warna gucu’ setiap pemain harus memiliki warna beda atau khas untuk membedakan warna guli yang ada di dalam lingkaran.
  • Setiap pemain diberi kesempatan yang sama untuk melempar gucu’ menuju lingkaran dari garis yang ditentukan.
  • Jika pada saat melempat gucu’ ada kelereng dalam lingkaran yang keluar, kelereng tersebut akan menjadi milik sementara pemain tersebut.
  • Jika gucu’ yang dilemparkan masuk ke dalam lingkaran (disebut oles), pemain tersebut tidak dapat melanjutkan permainan dan kelereng taganan miliknya akan menjadi rebutan pemain lain.
  • Jika pemain sudah berhasil mengenakan gucu’nya ke kelereng yang ada dalam lingkaran, pemain tersebut memiliki hak untuk menujukan gucu’nya ke kelereng lawan.
  • Jika gucu’ lawan dapat dikenai, pemain tersebut tidak dapat melanjutkan permainan selanjutnya dan hasil sementara harus diberikan kepada pemain yang berhasil menujukan gucu’nya ke gucu’ lawan.
Nilai budaya yang dapat diambil dari permainan kelereng tersebut adalah kebiasaan mayarakat untuk bermusyawarah sebelum melakukan tindakan. Pemain harus membuat kesepakatan  terlebih dahulu berapa banyak kelereng yang menjadi taganan, setelah itu baru permainan dapat dimulai. Kebiasaan untuk bermusyawarah yang terkandung dalam permainan ini tentu dapat dengan mudah teraplikasi dalam kegiatan kemasyarakatan yang lain. Nilai luar biasa yang terkandung dalam permainan tersebut sungguh menjadi warisan yang tidak boleh hilang dan wajib untuk dilestarikan.

Selain kegiatan musyawarah, dalam permainan ini juga dituntut kejujuran dan ketulusan. Pemain yang kalah dan gucu’nya masuk lingkaran harus tulus menerima keadaan. Pemain tersebut juga harus dituntut jujur untuk menyerahkan semua hasil sementara yang didapatkan tanpa harus dihitung kembali oleh pemain lain. Nilai kejujuran dan ketulusan seperti digambarkan dalam permainan guli ini membuat kita harus bercermin diri seperti apa keadaan kita saat ini yang sudah jauh dari permainan rakyat.

Related Post:

Belum ada komentar untuk "Main Guli: Nilai Kebudayaan dan Pendidikannya dalam Permainan Rakyat"

Post a Comment