Indahnya Iman sebagai cahaya yang menyinari manusia

Pada sebuah kejadian imajinasi, terdapat dua gunung besar yang saling berhadapan. Di atas keduanya ditancapkan sebuah jembatan gantung besar yang menakjubkan. lalu di bawahnya terdapat sebuah lembah yang dalam. Aku berdiri di atas jembatan tersebut. Sementara seluruh isi dunia diliputi oleh kegelapan yang pekat.

Aku melihat ke sisi kanan; ternyata ia berupa pekuburan besar di bawah sayap kegelapan yang tak bertepi. Kemudian aku melihat ke sisi kiri; bahwa kulihat gelombang hitam menerjang kuat serta bencana hebat menerpa seakan-akan ia siap menyerang.

Yang kumiliki hanya sebuah lentera dengan cahaya yang sangat lemah di tengah selimut kegelapan yang luar biasa. Hanya itu yang dapat kupergunakan.

Kondisinya sangat mencekam. Aku melihat sejumlah singa, dan hewan buas di setiap tempat bahkan sampai ke ujung dan tepi jembatan. Ketika itu aku berharap andai saja tidak memiliki lentera yang justru memperlihatkan makhluk menakutkan tadi. Sebab ke mana saja aku mengarahkan cahaya lampu, sejumlah hal menakutkan terlihat. Aku hanya mengucap, "Lentera ini hanya menjadi petaka dan bencana".

Kemarahanku meluap, lalu kubuang lentera itu ke tanah hingga hancur. Seakan-akan dengan kehancurannya aku telah menekan tombol lampu listrik yang besar. Seketika seluruh alam menjadi terang. Kegelapan pun sirna dan seluruh tempat dilliputi oleh cahaya.

Hakikat segala sesuatu menjadi terlihat dengan jelas. Ternyata jembatan gantung yang besar itu adalah jalan datar yang lapang. Pekuburan besar tadinya terlihat di sisi kanan tidak lain merupakan majelis ilmu dan perkumpulan mulia, serta ibadah yang luhur dan dipimpin oleh orang-orang bercahaya di taman hijau nan indah.

Lalu jurang dalam yang terlihat di sisi kiri tidak lain merupakan bukit-bukit berisi pepohonan hijau yang sejuk dipandang mata. Dibelakangnya terdapat jamuan besar dan taman yang sangat indah. Yaaa, begitulah yang tampak dalam hayalku. Adapun makhluk-makhluk menakutkan dan buas yang kulihat ternyata hanyalah hewan jinak lagi bersahabat. Ketika itulah aku membaca ayat yang berbunyi: "Allah pelindunga orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju kepada cahaya." (QS. Al-Baqarah:257).

Aku pun terus mengucap, "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan cahaya iman." Lalu aku tersadar dari kejadian di atas. Bahwasanya, kedua gunung yang dimaksud adalah awal dan ujung dari kehidupan. Yakni keduanya merupakan alam bumi dan alam barzakh. Sementara jembatan gantung itu adalah jalan kehidupan. Sisi kanan merupakan masa lalu, sementara sisi kiri berupa masa depan. Lalu, lenteranya berupa sifat egois manusia yang hanya melihat dirinya serta percaya dengan ilmu yang dimilikinya tanpa mau mendengar kalam dari Allah. Adapun binatang buasnya berupa sejumlah peristiwa serta berbagai entitasnya yang menakjubkan yang berada di alam ini.

Manusia yang mengandalakn egonya lalu jatuh kepada jaring gelapnya kelalaian dan rantai kesesatan laksana keadaanku saat pertama kali jatuh pada kejadian imajinasi di atas di mana masa lalu lewat cahaya redup yang berupa pengetahuan yang penuh kesesatan tampak seperti pekuburan besar dalam gelapnya ketiadaan. Lalu ia menggambarkan masa depan seperti sesuatu yang suram berhias sejumalah kesulitan. Ia juga menggambarkan semua kejadian dan entitas yang sebetulnya merupakan pesuruh yang tunduk kepada Dzat Yang Maha Bijak dan Maha Pengasih laksana binatang buas yang berbahaya.

Namun, jika manusia mendapat petunjuk Ilahi, sehingga iman masuk ke dalam kalbu, lalu sifat firaunisme lenyap dan hilang, kemudian mau mendengar ktabullah, maka ia laksana kondisi kedua dari peristiwa imajinasi tersebut. Seluruh alam berubah menjadi siang dan diliputi oleh cahaya Ilahi. Semua mengucap ayat, "Allah sumber cahaya langit dan bumi" (QS. An-Nur: 35).

Masa lalu bukanlah pekuburan besar. Namun setiap masanya seperti yang terlihat oleh penglihatan kalbu penuh dengan sejumlah jamaah yang mengerjakan tugas ubudiah di bawah kendali Nabi utusan Allah. Setelah jamaah itu menyelesaikan berbagai tugas kehidupannya dan kewajiban fitrinya mereka terbang menuju kedudukan yang tinggi seraya mengucap, "Allahuakbar" dengan menembus hijab masa depan.

Ketika menoleh ke sisi kiri lewat teropong iman, tampak dari kejauhan bahwa di balik berbagai kejadian alam barzakh dan akhirat terdapat sejumlah istana kebahagiaan. Di atasnya terdapat berbagai jamuan Tuhan. ia mengetahui bahwa setiap hal yang terjadi di alam ini seperti gempa, banjir, kekeringan, wabah penyakit, dan sejenisnya merupakan suruhan yang tunduk. Maka, angin yang bertiup di musim semi, serta hujan dan badai yang tampak memilukan sebenarnya penuh dengan hikmah tersembunyi. bahkan kematian tampak sebagai pendahuluan bagi kehidupan abadi, serta kuburan laksana pintu menuju kebahagiaan yang kekal. Demikian pula dengan sisi-sisi yang lain.

Yaaa,, sebagaimana iman merupakan cahaya yang menyinari manusia dan memperlihatkan seluruh tulisan Ilahi yang tertera padanya, ia juga menyinari seluruh alam. Ia menyelamatkan masa lalu dan akan datang dari kegelapan yang pekat.

Wolluha'alambisawaf.

Related Post:

Belum ada komentar untuk "Indahnya Iman sebagai cahaya yang menyinari manusia"

Post a Comment