Emosi dan seni

Seni adalah ungkapan kehidupan yang oleh karenanya menjadi wajar jika umumnya seni merupakan ekspresi dari emosi. Sekurang-kurangnya ada ungkapan emosi di sana. Terentang dari mulai seni tulisan, musik, drama, dan seni rupa, semuanya menampilkan emosi. Banyak cerita-cerita, musik-musik, film-film dan lukisan-lukisan yang menerangkan bagaimana emosi dialami dan terjadi pada diri manusia. Ada yang mengeksploitasi takut seperti cerita horor. Ada juga yang mengeksploitasi kesedihan, kemarahan, kebahagiaan, dendam, dan lainnya.

Penikmat seni bisa ikut mengalami emosi seperti yang tergambar dalam karya seni. Penonton film horor akan ikut merasa takut. Penonton film tragedi akan ikut menangis. Pendengar musik alam, akan ikut merasakan damai. Tapi apakah emosi itu riil? Sepanjang Anda merasakan adanya emosi itu dalam diri Anda, maka emosi itu adalah riil. Meskipun tentu saja dengan kesadaran bahwa penyebabnya tidak benar-benar riil. Film horor hanyalah bohong-bohongan.

Seni bisa memperkuat dan menurunkan emosi. Misalnya musik. Suara musik berperan penting dalam memperkuat atau menghilangkan emosi tertentu. Musik yang mendayu-dayu akan lebih cocok untuk suasana romantik sehingga memperkuat emosi cinta. Musik yang menyayat akan lebih memperkuat suasana sedih. Musik yang cepat dan menghentak akan lebih memperkuat suasana gembira.

Pada akhirnya harus dikatakan bahwa tanpa emosi, sebuah karya seni menjadi tidak bermakna. Sebaliknya penikmat tidak akan dapat menikmati karya seni jika tidak memiliki emosi tertentu terhadap karya seni itu. Ketidaktertarikan pada sebuah karya seni menunjukkan bahwa emosi Anda tidak positif pada karya seni itu. Misalnya Anda tidak suka sebuah film, maka boleh jadi Anda secara emosional kurang dibangkitkan oleh film itu.

#psikoterapis.com

Related Post:

Belum ada komentar untuk "Emosi dan seni"

Post a Comment