105 menit Menuju Sumbawa Barat bersama Serdadu Kumbang

Dimulai jauh dari sebuah desa yang diselimuti perbukitan Desa mantar, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Aku terlarut dalam keindahan alam dan sisi keseharian dari kehidupan penduduk daerah tersebut. Dan bertemulah aku dengan seorang anak laki-laki yang terlahir dengan sumbing di bibirnya dan tinggal bersama ibunya, Siti, dan kakaknya, Minun. Ayahnya sendiri, Zakaria, semenjak lama telah meninggalkan keluarga untuk menjadi seorang tenaga kerja di negri jiran. Walau hidup dengan cacat fisik yang dimiliki serta kondisi keuangan keluarga yang terbatas, Amek, nama bocah ini, adalah sosok anak yang ceria. Bahkan ia seringkali menyulitkan ibunya karna tingkah lakunya yang jahil, malas belajar dan lebih sering berkhayal untuk mengikuti jejak Najwa Shihab untuk menjadi seorang pembawa acara berita.

Kemudian, cerita beralih pada pendidikan yang didapatkan Amek, yang secara akademis bukanlah sosok yang cemerlang. Tahun sebelumnya, Amek sempat dinyatakan tidak lulus ketika mengikuti Ujian Nasional. Hal inilah yang membuat ibu, kakak dan seorang gurunya, Imbok, terus menerus memompa semangat belajar Amek. Di sekolah Amek sendiri, para guru telah bertekad untuk tahun ini dapat meluluskan seluruh siswanya. Hal ini dilakukan dengan cara penegakan disiplin belajar dan tingkah laku di kehidupan sehari-hari mereka. Suatu hal yang kadang justru menjadi sebuah momok tersendiri bagi para siswa dan siswi di sekolah tersebut untuk dapat belajar dengan tenang.

Realita sesungguhnya dimana pendidikan kita masih jauh dari harapan. Kemiskinan seolah-olah menjadi hal yang paling sering kita lihat. Namun ditengah serba kekurangan, kulihat Amek dan sahabat-sahabatnya memiliki harapan tinggi untuk menggapainya. Disinilah kisah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi diriku.

Beberapa kali sikap konyol dan polos Amek menghibur diriku, saat amek bertemu dengan seseorang (seorang pedagang apa saja) yang sedang menelpon di atas sebuah pohon besar. Amek yang sangat merindukan kehadiran ayahnya sangat antusius untuk mendapatkan HP yang dimiliki seorang pedagang tersebut. Lalu dimintalah pedagang tersebut untuk menukarkan HPnya dengan seekor anak kambing.

Kita semua pasti tahu, jika di desa sangat sulit mendapatkan sinyal telepon, Amek yang mendapatkan handphone dari seorang pedagang tersebut harus beberapa kali mengeluarkan sikap konyol dan polosnya dimana tidak semua orang mengerti dengan teknologi, sampai-sampai dengan uang 20 ribu rupiah amek mau membeli kartu, pulsa dan sinyalnya sekalian. Hahaha..

Sejujurnya, banyak sekali kisah yang ingin aku ceritakan pada liburan kali ini. Ada guru killer, maka ada pula guru baik. Guru Imbok yang menjadi guru favorit dan paling mengerti keinginan anak didiknya. Bahkan ketika menjelang ujian nasional ia memberikan tambahan pelajaran di bawah kolong rumah panggungnya. bukan amek dan sahabat-sahabatnya yang diajarin, tapi orang-orang disekitar pun diajarin yang kebanyakan orang tua yang buta aksara. Ya, inilah potret kehidupan pendidikan masyarakat kita sesungguhnya.

Rasa persahabatan dalam kisah ini juga mengingatkanku pada film Laskar Pelangi yang pernah booming pada saat itu. Pengorbanan seorang anak kecil membuatku berpikir, mereka saja berani menanggung kesalahan teman-temannya, mengapa kita tidak bisa?

Hal unik lainnya yang bisa ku nikmati adalah, mereka memiliki sebuah pohon tua dimana pohon tersebut digunakan untuk menggantungkan harapan mereka kelak yang disimpan dalam botol. mereka mulai memanjat dan mulai menuliskan harapan mereka kemudian dimasukkan kedalam botol dan diikatkan di batang-batang pohon yang sudah gersang tersebut. Lalu ada pula cita-cita si Amek yang ingin menjadi penyiar televisi. Beberapa kali amek berakting menjadi penyiar berita di sebuah jendela rumahnya.

Bla..Bla..Bla..

Akhirnya, di sebuah padang rumput hijau beserta pohon tua, Amek dan semua sahabatnya, orang tua serta guru-guru berkumpul. Melepaskan semua kumbang yang ada di dalam kaleng. Inilah Kumbang-kumbang dan para serdadunya.

Nah, inilah kisah liburanku pada bulan Juni yang sangat berkesan. ditengah kesibukan yang menyesakkan dada,. pada hari minggu tepatnya pada tanggal 19 Juni 2011 pukul 19:00 selepas pulang bertugas dari LPMP Kalimantan Barat ku paksakan sendirian untuk mampir ke bioskop 21 pontianak demi menyaksikan para serdadu kumbang. Yaaa,,sepertinya film serdadu kumbang layak menjadi tontongan teman-teman yang udah bosan dengan film horor yang itu aja. Film yang sebenarnya untuk mengisi liburan dunia anak-anak ini patut menjadi daftar tontonan akhir pekan ini, karena perjuangan mereka dalam meraih cita-cita patut menjadi contoh bagi kita semua.. sukses serdadu kumbang!!!

Related Post:

3 Tanggapan untuk "105 menit Menuju Sumbawa Barat bersama Serdadu Kumbang"

  1. mantap.. serdadu tak takut peluru... :D

    ReplyDelete
  2. liburannya keren.aku selalu suka membaca ceria anak pedalaman yang polos dan apa adanya. kalo ketemu amek, titip salam ya. semoga cita2nya terkabul ^^

    ReplyDelete
  3. wiih waktu nonton filmnya, haduh seneng naget,, ampe mau nangis juga waktu kudanya dibawa pergi, hehehe

    ReplyDelete