Soneta Ceria

INI kucatat dari kenangan lama pada nota kekuning-kuningan dan kerdip cahaya jauh kekunang-kunangan. Tentang sisa sentuh yang sesusah sungguh mengharap utuh. Engkau bertahun tertawa menyembunyikan jerit aduh yang mestinya sudah ribuan kali kau teriakkan, dengan kepal menggumpal, di sepanjang jalan sampai ke pal ke-empatpuluh. Usia sudah kau hafal.

INI kucabut dari duri-duri yang kau sebut dengan kata yang kau ciptakan sendiri sebagai sinonim dari rasa sakit. Kau kira pedih itu akan membunuhmu dengan amat lembut. Kukira pedih itu sedang mengecupmu pada kuncup luka-luka itu. Dan kau sisakan satu bagian pada tubuh, di situ luka tak kau biarkan sampai menyentuh.

INI kurenggut dari pohon kecil yang tumbuh melampaui semua keganasan musim. Buah yang telah lama ranum. Buah yang tak juga jatuh bersama sekian puluh ribu daun luruh, tak terpetik pemanjat dengan tangan dan dada berpeluh. Siapa yang menuliskan nama di kelupas kulit batang itu? Siapa yang menoreh darah di lendir kambium itu?

INI kubangkitkan dari tanggal yang tenggelam di dalam danau dendam. Dan aku hanya pencari damar. Yang singgah bersandar. Sebentar. Mengagum pada wangi yang tersamar. Tertebar. Dan tak ada yang menjawab ketika aku ragu, "Betapa luas lagi sisa hutan ini?" Ragu, juga kubaca pada peta tergulung di ransel itu.

INI kutulis menjadi luka-luka pada tubuh,
kaubaca dengan lidah yang hanya
bisa menyebut satu kata,
kata yang berakhir dengan
bunyi "...uh"

Kau cintaku ---
Penadah segala yang kurampas.

- Chairil Anwar

Related Post:

Belum ada komentar untuk "Soneta Ceria"

Post a Comment