Sastra Dan Teknologi

B.J. Habibie pernah mengemukakan bahwa ia tidak dapat hidup tanpa teknologi. Namun saya tidak dapat hidup tanpa bahasa dan sastra. Alasan saya, tanpa keduanya hidup terasa gersang dan tanpa kemanusiaan. Tanpa keduanya hidup tidak indah dan tidak nikmat.

Sebaliknya, sekarang ini masyarakat umum hidup tanpa sastra. Mereka hidup dengan teknologi. Henk Meier, seorang pakar sastra Melayu di Universitas Leiden Belanda mengungkapkan bahwa masyarakat Barat ternyata tak lagi menjadikan sastra sebagai inti pendidikan dan kebudayaan. Sampai sepuluh tahun lalu, di Eropa dan Amerika, sastra masih menjadi inti pendidikan dan kebudayaan. Tetapi kemajuan teknologi seperti internet memiliki andil meminggirkan sastra.

Beliau selanjutnya mengungkapkan bahwa manusia tak lagi membaca novel, membaca puisi. Ia kaget mengapa mereka bisa hidup tanpa sastra. Sastra kini hanya dianggap bagian kebudayaan. Peran sastra bagi masyarakat karena itu juga menghilang. Impian sastra sebagai inti pendidikan dan kebudayaan demikian juga. Hal ini terjadi karena kian majunya kehidupan masyarakat yang didukung oleh kemajuan teknologi. Lama-lama sastra akan mampus diganti televisi dan internet.

Gambaran Meier itu sebenarnya juga telah melanda manusia Indonesia. Ia meramalkan hilangnya sastra sebagai inti pendidikan dan kebudayaan akan melanda Indonesia. Hilangnya sastra bagi kehidupan manusia Indonesia disebabkan oleh orientasi kehidupan terlalu material, khususnya terlalu meninggikan nilai teknologi. Di samping itu, sastra atau karya sastra dianggap hanya karya sastra manusia pengkhayal, pembohong dan pendusta. Atau hanya karya manusia malas dan manusia yang takut menghadapi kenyataan hidup sebenarnya. Apakah benar Anggapan dan orientasi demikian? Baca artikel selengkapnya di sini.

Star Wars: The Complete Saga (Episodes I-VI) [Blu-ray]

Related Post:

Belum ada komentar untuk "Sastra Dan Teknologi"

Post a Comment