Revitalisasi Kerajaan Melayu di KalBar

Melayuonline.com - Adat budaya Melayu merupakan penopang utama eksistensi kerajaan-kerajaan Melayu di Kalimantan Barat. Dengan adat dan budaya, keunikan dan kejayaan kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat dibangun dan dikembangkan. Oleh karenanya, sudah saatnya adat budaya kraton tersebut diinventarisir, didokumentasi, dan direvitalisasi sehingga lestari dan memberikan manfaat untuk pengembangan masyarakat baik secara kultural maupun ekonomi. Untuk melakukan kerja besar tersebut, perlu ada kerjasama yang produktif antara para pewaris kraton atau istana (sultan dan keluarga besar kraton), pemerintah, lembaga-lembaga yang peduli, dan masyarakat umum.

Kesadaran itulah yang muncul dalam pertemuan yang sebelumnya tidak direncanakan antara pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Mahyudin Al-Mudra, SH. MM. beserta rombongan dengan Raja-raja dari beberapa kraton di Kalimantan Barat, seperti Raja Kraton Ismahayana Landak Drs. Gusti Suryansyah, M.Si, Pangeran Istana Surya Negara Sanggau Drs. H. Gusti Arman, M.Si., dan Sultan Kesuma Negara V H.R.M. Ikhsan Perdana, serta beberapa keluarga kraton lainnya.

Dalam pertemuan yang berlangsung di lobby hotel tempat Bang MAM (demikian biasanya Pemangku BKPBM di panggil) menginap berlangsung cukup serius walau tetap dalam suasana kekeluargaan. Bahkan, lokasi pertemuan terpaksa harus dipindah ke kediaman Gusti Arman yang tidak jauh dari lokasi hotel karena di hotel tersebut bersamaan dengan kegiatan konsolidasi pilkada salah satu parpol.

Sambil menikmati sate khas Sanggau (baca: Sangau), perbincangan antara Pemangku BKPBM dengan para raja tersebut terus dilanjutkan. Menurut Gusti Suryansyah yang juga Ketua Forum Komunikasi Raja-Raja se-Kalimantan Barat, para raja di Kalimantan Barat saat ini sedang bergiat melakukan inventarisasi, dokumentasi, dan revitalisasi budaya kraton yang banyak hilang pada masa penjajahan Jepang. “Saat ini, para raja di Kalimantan Barat sedang bergiat melestarikan budaya kraton, bukan untuk menghidupkan budaya feodalisme, tetapi lebih sebagai upaya menjaga dan melestarikan khazanah budaya lokal sehingga dapat menjadi sumber inspirasi dalam mendidik generasi muda dan membangun masyarakat.” Ungkap Gusti Suryansyah.

Menanggapi lontaran tersebut, Mahyudin mewanti-wanti agar pelestarian tidak semata-mata menjaga tetap terpeliharanya sebuah bangunan dan benda-benda kraton yang bersifat tangible heritage saja, tetapi juga agar pelestarian tersebut menghasilkan sebuah cultural heritage yang hidup sehingga memberikan manfaat tidak saja pada lestarinya kraton, tetapi juga pada pengembangan budaya lokal dan penyejahteraan masyarakat baik secara spiritual maupun material (ekonomi).

Lebih lanjut, Bang MAM mengungkapkan bahwa Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu siap membackup upaya para raja tersebut baik dengan meng-online-kan melalui portal yang dimiliki BKPBM, serta merancang berbagai kerjasama konkrit lainnya.

Merespon masukan dari Mahyudin tersebut, Gusti Arman selaku raja istana Surya Negara Sanggau, memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada kru MelayuOnline.com untuk mengeksplorasi semua hal yang berkaitan dengan Istana Surya Negara dan meminta staf istana untuk memberikan data-data yang dibutuhkan.

Segera setelah pertemuan berakhir, Pemangku BKPBM Mahyudin Al Mudra, SH., MM., yang didampingi redaktur Budaya Melayu Ahmad Salehudin, MA, Humas BKPBM Yuhastina Sinaro, STT.Par., dan fotografer Aam Ito Tistomo memasuki Istana Surya Negara. Dengan ditemani oleh staf Istana, para kru MelayuOnline.com memasuki setiap bagian istana, mencatat data-data dan memotret berbagai pusaka yang tidak semua orang mempunyai kesempatan seperti ini.

Related Post:

Belum ada komentar untuk "Revitalisasi Kerajaan Melayu di KalBar"

Post a Comment