Posts

Ketika Tuhan Memilihmu untuk Menuliskannya

Sadarkah kita akan takdir kita? Tahukah apa yang akan menjadi masa depan kita? Dan apakah kita akan tahu apa yang akan kita tuliskan di masa depan kita?  Pernahkah kita merenung dan memikirkan tentang ini? Suatu hari kita akan mengalami mati ide. Tidak tahu apa yang harus dituliskan dan cerita apa yang akan dirangkai. Kita akan merasa kesal karena buntu. Namun di saat itulah seharusnya kita melepaskan sejenak jari-jari kita untuk menguntai kata dan kalimat. Biarkan kita beristirahat sejenak dari setiap rutinitas kita di depan layar untuk mengayukan jemari menjadi sebuah kisah. Karena sesungguhnya Tuhan sedang mengistirahatkan kita sejenak sebagai seorang penulis. Tuhan telah menyiapkan sekian banyak kisah yang tidak terhingga, telah diputuskanNya siapa akan menulis apa. Jadi kenapa harus takut kalau kita tidak akan bisa menulis. Dunia menulis terlalu rumit, terlalu kompleks dan terlalu sederhana untuk dimengerti. Milyaran orang di luar sana berlomba-lomba menuliskan ...

Perjuanganmu seperti Pohon Bambu

Kemarin aku merasa sangat jenuh dan bosan dengan kehidupan ini dan ingin berhenti dari semuanya, berhenti dari rutinitas, hubungan, spiritual.. dan berhenti untuk hidup. Segera Aku pergi menghampiri kasurku yang tidak empuk lagi dan perlahan ku pejamkan mata ini. Maka berhentilah kehidupan nyataku hari itu. Tiba-tiba aku berada di tengah hutan dan dalam hati ingin sekali ku berbicara untuk yang terakhir kalinya dengan Sang Pencipta. "Tuhan, mohon berikan aku satu alasan untuk tetap hidup dan berjuang?" Ternyata jawaban Tuhan Yang Maha Pencipta lagi Maha Bijaksana sangat mengejutkanku.. "Lihat di sekelilingmu, apakah kamu melihat tanaman Semak dan pohon Bambu? "Ya," jawabku. Yang Maha Pencipta mulai bertutur: "Saat aku menanam benih Semak dan Bambu, aku memelihara mereka dengan sangat baik dan hati-hati. Aku memberi mereka sinar matahari, menyirami dengan air seadil-adilnya. Tanaman Semak tumbuh dengan sangat cepat. Daun-daunnya...

Maaf, Aku hanya ingin sendiri

Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya ingin sendiri Maaf, Aku hanya i...

Jiwa yang sedang gelisah

Wahai jiwa yang sedang gelisah karena sakit akibat mengingat berbagai kenikmatan dunia, seandainya dunia ini kekal abadi, lalu kematian benar-benar tiada, kemudian setelah ini tidak ada lagi perpisahan, serta `musim dingin` tak lagi datang karena telah terisi oleh berbagai penderitaan, maka pastilah aku ikut berduka dan menangis melihat kondisimu. Namun, karena dunia akan mengusir kita dan berkata `Ayo keluar!` sementara ia tuli; tak mendengar teriakan dan permintaan tolong kita, maka sebelum ia mengusir kita, sejak sekarang kita harus membuang rasa cinta terhadapnya serta perasaan kekal di dalamnya lewat teguran sakit ini.

Engkau yang galau karena kepalsuan dari janji cinta

Sadarilah bahwa luka hatimu itu hanya sedalam cintamu, dan kualitas cintamu seharusnya setinggi nilai dari orang yang kau cintai. Bagaimana mungkin engkau menyerahkan seindah-indahnya cintamu kepada orang yang tidak jujur dan palsu? Dan bagaimana mungkin engkau berharap kepada orang yang sampai hati membuatmu bersedih dan menangis? Maka alihkanlah arah cintamu dari orang yang tidak baik bagimu itu, kepada kebutuhan dirimu untuk tampil menarik bagi cinta yang baru, yang sesuai dengan kebaikan hati dan pekertimu. Dan bisikkanlah kepada Tuhanmu … Wahai Yang Maha Lembut, Selamatkan dan pulihkanlah hatiku dari kepedihan ini, mudahkanlah aku melihat keaslian dari keburukannya, damaikanlah aku karena pelajaran dari kepalsuan ini, dan pendarkanlah sinar cinta-Mu pada pribadi dan perilakuku, agar aku menjadi satu-satunya tujuan cinta bagi pribadi baik yang Kau hadiahkan kepadaku sebagai belahan jiwaku. Wahai Yang Maha Cinta, Temukanlah aku dengan belahan jiwaku, dan ut...

Emosi dan seni

Seni adalah ungkapan kehidupan yang oleh karenanya menjadi wajar jika umumnya seni merupakan ekspresi dari emosi. Sekurang-kurangnya ada ungkapan emosi di sana. Terentang dari mulai seni tulisan, musik, drama, dan seni rupa, semuanya menampilkan emosi. Banyak cerita-cerita, musik-musik, film-film dan lukisan-lukisan yang menerangkan bagaimana emosi dialami dan terjadi pada diri manusia. Ada yang mengeksploitasi takut seperti cerita horor. Ada juga yang mengeksploitasi kesedihan, kemarahan, kebahagiaan, dendam, dan lainnya. Penikmat seni bisa ikut mengalami emosi seperti yang tergambar dalam karya seni. Penonton film horor akan ikut merasa takut. Penonton film tragedi akan ikut menangis. Pendengar musik alam, akan ikut merasakan damai. Tapi apakah emosi itu riil? Sepanjang Anda merasakan adanya emosi itu dalam diri Anda, maka emosi itu adalah riil. Meskipun tentu saja dengan kesadaran bahwa penyebabnya tidak benar-benar riil. Film horor hanyalah bohong-bohongan. Seni bisa...

Yang liar. Dan berdarah.

: Erie Prasetyo KITA sedang sakit. Hidup hanya dari sakit ke sakit. Menyesali banyak kesalahan yang semakin benar. Itu misalnya, pernah kau tuliskan dalam daftar seratus hal yang kau inginkan, dan seratus hal lain yang tidak kau kehendaki. Kau tak tahu di mana kau sepatutnya menuliskan 'Bali' di daftar itu, sebab sesuatu yang amat buruk dan juga amat berarti berawal dan berakhir di situ. * Kita pelihara lapar dan marah. Yang liar. Dan berdarah. Keduanya kini bisa bernama Puisi. Kau menuliskannya kini di antara waktu luang, dalam perjalanan kota ke kota, di sela-sela tur sangat panjang,  sebuah kelompok musik, yang jatuh dan bangkit bersamamu. Puisi yang, katamu, kini sabar menyabarkan, menjinakkan, membebat luka-luka, yang dulu menutup-membuka di tempat-tempat yang sama. * Kita telah terbiasa sakit, dengan rasa sakit kita ini. Hingga kau tak lagi mau tertipu, surga yang menipu, kau beritahukan parut luka kecil di lipatan lenganmu. Kau bilang, "Empat tahun lamanya, aku ber...