Perumpamaan sifat Ayam, Bebek, dan Merpati yang ada pada Manusia

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS.Al A'raf:179)

Dunia seisinya adalah hamparan ayat-ayat Allah yang tak terlukiskan, di dalamnya terdapat begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil ibroh dan hikmahnya. Dari perilaku tumbuhan ataupun perangai binatang terkadang bisa melukiskan dan menjadi gambaran akal perilaku manusia.

Dalam kehidupan, sering kita temui gambaran perilaku binatang yang begitu jelas memberikan pelajaran bagi manusia. Dalam kehidupan berpasangan, berumah tangga, melahirkan, mendidik dan membesarkan keturunan, ada beberapa tipikal perilaku manusia yang mirip perilaku dan perangai yang dilakukan oleh binatang.

1. Ayam

Dalam mencari pasangan hidup, melahirkan keturunan dan membesarkan anaknya, manusia ada yang seperti perilaku ayam. Ayam tidak pernah setia dengan pasangannya, selesai dengan yang satu, dilanjutkan dengan mencari pasangan yang lain, tak pernah puas dengan yang ada. Pasangan ibarat kesenangan belaka buatnya. Tak ada kata "setia" dalam kamus si ayam, yang ada di manapun, kapanpun ada kesempatan, si ayam baik jantannya maupun betina, langsung sikat.

Dalam melahirkan dan merawat keturunan pun ayam memberikan contoh yang kurang baik kepada kita, terutama si jantan. Ayam jantan hanya tahu menggauli, tanpa pernah mau bertanggungjawab akan hasil perbuatannya. Selanjutnya tanggung jawab melahirkan, merawat, memberi makan dan membesarkan anak-anaknya, ada pada si betina. Si betina yang harus sekian puluh hari mengerami, bersabar menunggu menetasnya telur-telur, sementara si jantan tengah asyik bersama pasangan-pasangan barunya. Tak sampai di situ pengorbanan si betina, setelah semua telur menetas, ia pun yang harus sendirian mencari makan anak-anaknya, mengajari mereka cara mengais-ngais untuk menemukan sebutir makanan, juga yang harus mengajari mereka bagaimaa cara mempertahankan diri.

Banyak kita temukan manusia tipe ayam seperti ini, yang tak pernah setia dengan pasangannya, ia hanya memperlihatkan kesetiaan pada saat ia butuh, dan melupakannya setelah si betina berlalu. Ada juga manusia ala "ayam pejantan" yang tidak bertanggungjawab dengan anak-anaknya, ia hanya sibuk mencari kesenangan sendiri, sementara istrinya yang harus menderita mengandung anaknya, berjuang mempertaruhkan nyawanya saat kelahiran anak-anaknya, setelah itu ia juga yang harus mencari makan buat anak-anak mereka, juga ia pula yang harus sendirian dengan bercucuran air mata dan keringat harus mengajari anaknya, bagaimana bertahan hidup dan mencari nafkah. Na'udzubillah

2. Bebek

Ada perumpamaan perilaku manusia yang lebih mengerikan daripada ayam, dialah bebek. Bebek jantan memiliki kesamaan dengan ayam jantan, tak pernah ada kata setia dalam hidupnya, dia selalu merasa ia lah yang paling perkasa, seringkali si peternak bebek hanya memerlukan satu atau dua ekor pejantan, untuk puluhan bebek betina yang dimiliki, ya.. itulah bebek, karna perilakunya yang suka berganti-ganti pasangan bahkan satu dibanding sepuluh. Ada kemiripan antara bebek jantan dan ayam jantan, keduanya sama-sama tak pernah setia.

Perbedaan yang lebih parah ada pada si betina, jika ayam betina masih mau bersusah payah menunggu dan berpuasa dalam masa-masa mengerami telur-telurnya, kemudian setelah menetas ia juga yang bertanggungjawab menafkahi dan membesarkan keturunannya, namun bebek betina tak pernah mengenal dan memiliki sifat-sifat keibuan. Setelah ia bertelur, si jantan dan si betina setali tiga uang, tak mau keduanya bertanggungjawab atas hasil perbuatanya. Itulah akhirnya untuk mengembangbiakkan bebek diperlukan bantuan mesin penetas buatan, atau mesin penetas alami, yaiu dititipkan pada si ayam, ya.. peternak bebek menitipkan telur-telur bebek di eraman ayam betina.

Kadangkala kita mendengar perilaku bebek ini di sekitar kita, ada yang karna malu dan takut menjadi aib, ia membuang bayi hasil hubungan yang tidak halal, atau bahkan ada yang dengan sengaja membunuh janin yang baru dilahirkan atau bahkan sebelum ia lahir, demi sebuah kata "nama baik". Nyawa manusia dihargai tak lebih dari seekor binatang, padahal begitu banyak orang-orang yang diberikan ujian bertahun-tahun menunggu, berusaha kesana kemari demi memperoleh keturunan, namun belum diberikan oleh Allah. Itulah manusia, Astaghfirullah


3. Merpati

Ada perumpamaan yang indah dalam berpasangan dan membesarkan keturunan, dialah merpati. Merpati tak pernah ingkar janji, mungkin itu ada benarnya.

a. Merpati selalu setia dengan pasangannya
Merpati adalah burung yang tidak pernah mendua hati. Coba perhatikan, apakah ada merpati yang suka berganti pasangan? Jawabannya adalah “tidak”! Pasangannya cukup 1 seumur hidupnya. Begitu setianya merpati kepada pasangannya, dia akan mempertaruhkan nyawanya jika pasangannya diganggu. Bukti kesetiaan merpati, kita bisa lihat pada merpati balap, yang sering kita lihat, betapa puluhan kilometer jarak yang memisahkan mereka, namun pada saat melihat kibasan sosok pasangannya, meskipun dari tempat yag sangat tinggi, ia mampu mengenali benar bahwa itu pasangannya, dan ia akan kembali kepadanya.

b. Merpati adalah burung yang romantis. Coba perhatikan ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu. Pernahkah kita melihat mereka saling mencaci? Jawabannya, “tidak”! Merpati juga merupakan burung yang tahu kemana dia harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. Pernahkah ada merpati yang pulang ke rumah lain? Jawabannya adalah “tidak”!

c. Merpati selalu bersinergi dalam mempersiapkan rumahtangganya
Tak hanya si betina yang sibuk kesana kemari untuk mengumpulkan ranting-ranting pohon, namun sijantan pun secara bergantian terbang mencari bahan bangunan demi untuk mempersiapkan proses "kelahiran" keturunan mereka. Si jantan dan betina bahu membahu mempersiapkan sarang pada saat si betina telah siap bertelur.

d. Merpati Berbagi tugas dalam menjalankan fungsi mengerami telur-telurnya
Burung merpati tahu bagaimana pentingnya bekerja sama. Coba perhatikan ketika mereka bekerja sama membuat sarang. Sang jantan dan betina saling silih berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat mereka saling melempar pekerjaannya? Jawabannya, “tidak”! Mengerami telur bukan hanya tugas si betina, namun si jantanpun mengambil peran dalam proses ini, ia juga yang menjaga keamanan slama proses ini berlangsung

e. Merpati berbagi tugas membesarkan anak-anaknya
Mereka berdua berbagi peran dalam mencarikan makanan bagi si bayi merpati, bergantian mengajari anaknya terbang, membimbing anak-anaknya mencari makan, hingga pada saatnya mereka baru melepaskan setelah dia siap menghadapi hidup sendirian.

f. Merpati adalah burung yang tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan “kepahitan” sehingga tidak menyimpan dendam.

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar,. Begitu banyak pelajaran yang Allah berikan dalam kehidupan ini, tinggal pilihan kita, jangalah kita menjadi seperti ayam, bahkan jangan jadi seperti bebek, namun jagalah akhlak kita, jaga perilaku kita, jaga perbuatan kita, agar bisa lebih baik dan hebat daripada merpati, karna merpati adalah seekor burung yang diberi Allah sebuah kelebihan, yakni insting, sementara kita diberikan begitu banyak infrastruktur yang berupa panca indra dan akal pikiran yang sempurna, yang seharusnya bisa membuat kita jauh lebih mulia dari semua mahkluk Allah yang lain.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS Al Imron :190-192)

Diambil dari salah satu artikel renungan nurinawan.com dengan judul aslinya: Seharusnya kita bisa lebih baik dari pada Ayam, Bebek, dan Merpati


Related Post:

Belum ada komentar untuk "Perumpamaan sifat Ayam, Bebek, dan Merpati yang ada pada Manusia"

Post a Comment