Mengikat Makna dengan Tulisan (Bahasa Tulis)

”…bahasa pada hakikatnya adalah lisan, bukan tulisan.” demikian ungkapan Lie Charlie dalam kolom Bahasa edisi Jumat, 11 Juni 2010 lalu. Secara kronologis Bahasa memang berevolusi dari lisan ke tulisan, budaya bergerak dari orality ke literacy. Dengan percetakan, teks menjadi makin utama. Radio, televisi, dan internet kini pun hanya bisa ada dan berfungsi dengan tulisan. Tulisan tidak akan ada tanpa lisan, tetapi bahasa tulisan bukan sekadar bahasa lisan yang dituliskan. Hakikat bahasa tidak lagi lisan.

Baik dunia oral maupun literer kaya makna, tetapi ciri dan dampaknya pada proses pikiran manusia, dan sebagai kekuatan pengarah evolusi sosial, sangat berbeda. Bukan hanya itu, sejak tulisan pertama lahir lebih dari 5.000 tahun lalu di Sumeria (Irak Selatan), disusul Mesir, China, dst, dan sampai detik ini, sejarah mencatat bahwa bangsa bertulisan lebih unggul daripada bangsa berlisan saja. Nyatanya, sejarah adalah tulisan. Tulisan adalah cikal-bakal peradaban. Tulisan tinggal, lisan tanggal.

Bagi manusia, tiada kenyataan di luar makna. Kenyataan alam semesta sebagai keseluruhan dan serpihan kenyataan sebagai unsur penyusun dan perekat bangunan alam adalah potensi makna. Realitas dunia menyata di luar kita hanya ketika makna mewujud di dalam pikiran kita. Kalau ada kenyataan di luar makna, kita—per definisi—tak mungkin mengetahuinya. Pun kemampuan pemaknaan manusiawi kita bercacat. Itulah keterbatasan kita.

Akan tetapi, kita selalu berusaha. Sejauh kita berhasil memperluas batas-batas luar kemampuan pemaknaan kita, sejauh itu pulalah horizon realitas kita menjauh dan mengaya. Itulah pengetahuan kita.

Andai kata alam semesta pengetahuan adalah hamparan makna, kata-kata yang kita ciptakan adalah batu hampar makna. Kalimat, paragraf, bab, dan buku adalah mosaik dan supermosaiknya, lebih kompleks dan luas daripada perjumlahan makna-makna yang terkandung di dalam tiap-tiap batu hampar itu. Makin banyak batu hampar makna kita ciptakan dan kuasai, serta makin banyak mosaik dan supermosaiknya kita bentuk dan kenali, makin berdayalah kita atas langit dan bumi, serta makin bijak dan berhikmat kita bisa menjadi.

Karena makna adalah kenyataan yang terdistorsi kekerdilan otak kita, kemajuan terbesar pengetahuan datang bukan dari hal-hal yang sepenuhnya baru, melainkan dari penyingkiran distorsi-distorsi yang menghalangi pikiran kita melihat hal-hal lama dengan cara dan makna baru. Itulah sebab para bijak sejak zaman dahulu bersiteguh bahwa yang terpenting di dalam proses pemikiran dan pencarian ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan adalah pertanyaan yang tepat. Ilmuwan paling tenar Albert Einstein mengatakan, ”mengajukan pertanyaan baru, kemungkinan baru, menilik masalah lama dari sudut baru, membutuhkan imajinasi kreatif dan menandai kemajuan nyata dalam sains”. Filsuf agung Voltaire menyatakan, ”Nilailah orang dari pertanyaannya lebih daripada dari jawabannya.” Orang cerdas pandai menjawab. Orang cerdas dan bijak pandai bertanya.
Bertanya adalah mempertanyakan makna.
Mempertanyakan makna berarti menyempitkan lingkup makna. Selama berabad- abad sejak kelahiran filsafat Gerika, perkembangan bahasa-bahasa Eropa—induk sains dan teknologi kontemporer—ditandai bukan hanya oleh kata-kata yang mengacu pada realitas yang sama sekali baru, melainkan juga, bahkan terutama, oleh kata- kata yang menyajikan makna baru untuk lingkup yang lebih sempit—yakni, berpresisi tinggi—dari realitas-realitas lama.

Tulisan jauh lebih akurat, tahan lama, dan efisien dalam melahirkan, menyimpan, memproses, dan memperkembangkan gagasan, sampai yang serumit-rumitnya dan seluas-luasnya. Dari gagasan ke tindakan hanya selangkah. Tanpa tulisan, tidak ada dunia modern, ilmu pengetahuan lambat berkembang, teknologi sebatas sederhana, komunikasi sejauh teriakan, transportasi sekuat tungkai selebar layar. Buta tulisan, biarpun kaya lisan, adalah resep kemiskinan dan ketakberdayaan.

Guru-guru yang hidup dalam dunia lisan selalu menuntut murid-murid menghafal, bahkan menghafal mati, sampai hal-hal yang seremeh-remehnya. Dalam dunia tulisan, hanya hal-hal mendasar yang perlu dihafal. Yang perlu adalah mengikat makna, mengasah pemahaman, ketajaman berpikir, kemampuan analitis, abstraksi, dan seterusnya. Dalam lisan yang penting data. Dalam tulisan yang utama olah-data. Akibatnya, lisan itu statis menoleh ke belakang. Tulisan itu dinamis menatap masa depan.

Dunia oralitas juga penuh dengan ungkapan-ungkapan ekspresif seperti adil makmur, aman sentosa, dan lain-lain. Klise memang berkembang dalam dunia lisan. Dengan tulisan, kata-kata dalam ungkapan-ungkapan seperti itu bisa dipecah dan dianalisis sehingga timbul kompleksitas yang merombak dan memperkaya makna. Yang perlu bukan hanya kemampuan baca tulis, melainkan memfungsikan tulisan sebagai instrumen berpikir. Misalnya, hanya dengan tulisanlah bisa dikembangkan daftar, tabel, dan statistik. Bukan berpikir lalu menulis, melainkan menulis sebagai bagian dari proses berpikir canggih.


Tulisan meningkatkan pikiran. Pikiran meningkatkan tulisan. Pemikir adalah penulis. Menuliskan mosaik dan supermosaik hamparan makna. Mengikat makna dengan tulisan.

Related Post:

Belum ada komentar untuk "Mengikat Makna dengan Tulisan (Bahasa Tulis)"

Post a Comment