Konsep Nilai dan Sistem Nilai Budaya khas Bangsa Indonesia

Kemajemukan masyarakat Indonesia menunjukkan suatu aneka warna yang besar dalam hal budaya dan bahasa. Hal tersebut menjadikan mayoritas masyarakat Indonesia bangga akan Bhineka Tunggal Ika yang melambangkan bangsa Indonesia itu sendiri. Di sisi lain, keanekaragaman budaya dan bahasa yang ada di Indonesia memunculkan masalah kebudayaan nasional bangsa Indonesia yang menyangkut masalah kepribadian bangsa Indonesia itu sendiri. Masalah kepribadian bangsa Indonesia itu tidak hanya mengenai identitas bangsa Indonesia saja, tetapi juga menyangkut tujuan utama bangsa Indonesia untuk hidup sebagai bangsa.

Theodorson dalam Pelly (1994) mengemukakan bahwa nilai merupakan sesuatu yang abstrak, yang dijadikan pedoman serta prinsip – prinsip umum dalam bertindak dan bertingkah laku. Keterikatan orang atau kelompok terhadap nilai menurut Theodorson relatif sangat kuat dan bahkan bersifat emosional. Oleh sebab itu, nilai dapat dilihat sebagai tujuan kehidupan manusia itu sendiri.

Setiap individu dalam melaksanakan aktifitas sosialnya selalu berdasarkan serta berpedoman kepada nilai–nilai atau sistem nilai yang ada dan hidup dalam masyarakat itu sendiri. Artinya nilai–nilai itu sangat banyak mempengaruhi tindakan dan perilaku manusia, baik secara individual, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan tentang baik buruk, benar salah, patut atau tidak patut.

Suatu nilai apabila sudah membudaya di dalam diri seseorang, maka nilai itu akan dijadikan sebagai pedoman atau petunjuk di dalam bertingkahlaku. Jadi, secara umum, nilai itu merupakan pendorong bagi seseorang dalam mencapai tujuan tertentu.

Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi.

Nilai-nilai budaya akan tampak pada simbol-simbol, slogan, moto, visi misi, atau sesuatu yang nampak sebagai acuan pokok moto suatu lingkungan atau organisasi.
Ada tiga hal yang terkait dengan nilai-nilai budaya ini yaitu :
  1. Simbol-simbol, slogan atau yang lainnya yang kelihatan kasat mata (jelas)
  2. Sikap, tindak laku, gerak gerik yang muncul akibat slogan, moto tersebut
  3. Kepercayaan yang tertanam (believe system) yang mengakar dan menjadi kerangka acuan dalam bertindak dan berperilaku (tidak terlihat).
Sistem Nilai Budaya, Pandangan Hidup, dan Ideologi. Sistem budaya merupakan tingkatan tingkat yang paling tinggi dan abstrak dalam adat istiadat. Hal itu disebabkan karena nilai – nilai budaya itu merupakan konsep – konsep mngenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari dari warga suatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai , berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat itu sendiri. Nilai – nilai budaya ini bersifat umum , luas dan tak konkret maka nilai – nilai budaya dalam suatu kebudayaan tidak dapat diganti dengan nilai-nilai budaya yang lain dalam waktu yang singkat.

Salah satu kebudayaan khas masyarakat Indonesia adalah gotong royong. Gotong royong merupakan suatu konsep yang erat sangkut pautnya dengan kehidupan rakyat Indonesia sebagai masyrakat agraris, oleh karena itu gotong royong bernilai tinggi. Gotong royong merupakan sistem pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan untuk mengisi kekurangan tenaga pada masa-masa sibuk dalam lingkaran produksi sebagai masyarakat agraris. Nilai gotong royong merupakan latar belakang dari segala aktivitas tolong menolong antar masyarakat. Aktivitas tersebut tampak dalam antar tetangga, antar kerabat dan terjadi secara spontan tanpa ada permintaan atau pamrih bila ada sesama yang sedang kesusahan.

Dalam sistem nilai budaya Indonesia, gotong royong mengandung 4 konsep : Pertama, Manusia tidak hidup sendiri di dunia ini, tetapi dikelilingi oleh komunitasnya, masyrakatnya dan alam semesta sekitarnya. Kedua, Dalam segala aspek kehidupan manusia pada hakekatnya tergantung terhadap sesamanya. Ketiga, Memelihara hubungan baik dengan sesamanya, terdorong oleh jiwa sama-rata sama-rasa dan sama-sama. Keempat, Selalu berusaha untuk sedapat mungkin bersifat konform, berbuat sama dan bersama dengan sesamanya. Seluruh konsep tersebut memberikan sifat ketergantungan kepada sesama, dimana hal tersebut menciptakan suatu rasa keamanan nurani yang sangat dalam. Gotong royong merupakan kunci budaya kontemporer Indonesia, yang menggambarkan masyarakat di dalamnya dan semua kebijakan yang diambil dalam kehidupan bermasyarakat harus berdasarkan konsep gotong royong (Bowen 1986, 545).

Namun, sekarang Masyarakat bangsa Indonesia selalu mengikuti pergerakan perubahan sosial menurut perkembangan zaman. Hal tersebut menjadikan masyarakat itu lupa akan jati dirinya sendiri, tetapi mereka tidak memutuskan ikatan dengan sejarah masa lalu. Masyarakat bangsa Indonesia selalu mencari sesuatu yang baru, tetapi tidak melupakan konsep nilai budaya dan identitas nasionalmya.

Budaya khas lain yang dimiliki masyrakat bangsa Indonesia adalah negara dan ideologi agama yang mengakar di lapisan masyarakat saling tumpang tindih. Hal tersebut menjadi sangat sulit dibedakan. Indonesia merupakan contoh yang hebat dari adanya kesesuaian Islam (ideologi agama) dengan demokrasi (Wahid, 2001). Walaupun masyrakat Indonesia mayoritas beragama Islam tetapi Indonesia bukan merupakan negara dengan pemerintahan yang bersifat teokrasi. Masyarakat Indonesia menyetujui adanya nilai-nilai agama dan nilai-nilai patriotik, dan hal tersebut dijadikan dasar pembentukan negara Indonesia. Pada era reformasi peluang berpolitik semakin terbuka lebar, namun peran agama disini harus hilang sebagai adanya sikap toleransi. Sekalipun agama memainkan peran penting dalam nilai-nilai bermasyarakat tetapi arena politik harus sejalan dengan sebagai mana mestinya politik (Wahid, 2001).

Sebagai syarat mutlak kebudayaan bangsa Indonesia dapat didukung oleh seluruh masyarakat nasional, maka harus mempunyai sifat yang khas dan harus dapat dibanggakan. Dan unsur dari kebudayan tersebut harus dapat memberikan identittas kepada masyarakat Indonesia itu sendiri. Sehingga dapat menimbulkan rasa bangga. Oleh karena itu, kebudayaan tersebut harus bermutu tinggi. Berarti tiap hasil karya putera-puteri bangsa Indonesia dari suku atau bangsa mana saja asalnya, yang bersifat khas bangsa Indonesia dan bermutu baik, dan apabila masyrakat Indonesia bangga akan hasil karya tersebut, maka hal itu dapat dijadikan sebagai Kebudayaan nasional Indonesia.

Referensi :
  • Bowen, John R.. 1986. “On The Political Construction of The Tradition : Gotong Royong in Indonesia", dalam Journal Of Asian Studies, Vol. XLV, No. 3, pp. 545-560.
  • Wahid, Abdurrahman.1981. "Nilai-Nilai Indonesia : Apakah Keberadaannya Kini?". Prisma, no.11, Th. X, pp 3-8.
  • Wahid, Abdurrahman, K. H.. 2001. “Indonesia’s Mild Secularism”. Dalam Sais Review, Vol. XXI, No. 2, hal. 25-28.
  • Majalah Pendidikan. 2011. "Pengertian dan Konsep Nilai dalam Islam".

Related Post:

Belum ada komentar untuk "Konsep Nilai dan Sistem Nilai Budaya khas Bangsa Indonesia"

Post a Comment