Cinta bukan memiliki, tetapi menjadi..

"Apakah cinta itu seni? Ataukah hanya sebentuk perasaan menyenangkan yang dialami secara kebetulan saja, sesuatu yang membuat kita tercebur ke dalamnya jika sedang beruntung??"

"Cinta adalah sebuah seni, yang harus dimengerti dan diperjuangkan…
Dalam masalah cinta, kebanyakan orang pertama-tama melihatnya sebagai persoalan ‘dicintai’ ketimbang ‘mencintai’ atau kemampuan mencintai. Hal kedua yang mendasari sikap aneh masyarakat sekarang dalam soal cinta adalah anggapan bahwa cinta adalah persoalan ‘obyek’ bukan persoalan ‘kemampuan’."


Begitulah deskripsi singkat pemikiran Erich Fromm dalam bukunya "The Art of Loving" yang amat terpengaruh filsafat eksistensialisme. Erich Fromm sendiri adalah seorang penganut psikoanalisis dan seorang filsuf-sosial serta salah satu penganut Mazhab Frankfurt generasi pertama di samping Marcuse, Adorno dan Horkheimer. Dengan Buah pemikirannya yang terkenal adalah pengelompokannya akan dua modus (baca: motivasi/pemikiran) yang dimiliki setiap individu yakni, to have/having ‘memiliki’ dan to be/being ‘menjadi’.

Sebagaimana deskripsi singkat di atas, menurut Fromm terdapat dua modus bagi seseorang dalam mencintai orang lain, “memiliki” ataukah “menjadi”.

Cinta atas dasar modus memiliki bagi Fromm, adalah cinta yang buruk lagi menindas. Mengapa? Menurutnya, seseorang yang mencintai atas dasar “ingin memiliki” pada mulanya akan mati-matian menutupi segala keburukan dan kekurangan dalam diri. Namun, setelah sang pujaan hati dimiliki, lambat-laun, sedikit demi sedikit, tabir kegelapan dalam dirinya akan terungkap. Di sisi lain, cinta dengan modus memiliki hanya akan memunculkan tindak kesewenang-wenangan, pemaksaan dan “kediktatoran”—kau milikku, kau berada penuh dalam kuasaku. Perilaku “posesif” yang dimiliki pasangan adalah salah satu ekses dari cinta dengan modus memiliki. Bagi Fromm, cinta yang demikian ini tidaklah langgeng.

Berbeda halnya dengan cinta atas dasar modus memiliki, cinta dengan modus “menjadi” adalah cinta yang baik menurut Fromm. Cinta yang demikian adalah cinta yang  "membebaskan”, penuh toleransi dan memenuhi sendi-sendi kemanusiaan.

Sebagai contoh, Aku adalah seorang yang kaku lagi pendiam, jauh di lubuk hati sesungguhnya aku ingin menjadi pribadi yang supel lagi komunikatif. Suatu hari, aku bertemu sesosok wanita  dengan pribadi yang demikian (supel lagi komunikatif), kemudian jatuh cintalah aku padanya. Melalui cinta dengan modus menjadi, hal tersebut bisa menghantarkan pada perasaan berikut kognitif bahwa “Aku telah menjadi dia, dan sebaliknya: dia menjadi aku”. Dan, ketika suatu hari nanti gadis yang aku cintai tersebut berkata akan lebih bahagia bila bersama pria lain, maka dengan ikhlas dan rela hati pun aku akan melepas kepergiannya. Mengapa?

Hal tersebut dikarenakan diriku yang telah menjadi dia, sehingga aku pun akan turut bersuka cita apabila dia merasa lebih bahagia dengan pria lain —“aku adalah dia”. Bagi Fromm, cinta yang demikian —modus “menjadi”— adalah cinta yang langgeng dan abadi.

Bagaimana dengan modus cinta Anda ataukah pasangan Anda?

Sumber Bacaan:
Wahyu Budi Nugroho, 20110508, KETIKA ERICH FROMM BICARA “CINTA”
MySoftskill, 20110302, Resensi Novel The Art of Loving - Erich Fromm


Related Post:

Belum ada komentar untuk "Cinta bukan memiliki, tetapi menjadi.."

Post a Comment