Tergantung pada diri kita sendiri

Sangat-sangat mudah untuk tidak menjadi seorang bijak. berbuat sesuatu tanpa pernah berpikit apakah sesuatu itu baik atau buruk. namun ada saatnya bagi kita untuk berkaca pada diri sendiri dan memulai untuk mempertimbangkan kembali bagaimana baik dan buruk itu terbentuk. ada kalanya juga bahan-bahan renungan itu muncul secara tak terduga, secara tiba-tiba. entah lewat suka, bahagia, tawa, duka atau sengsara. kadang muncul dari sesuatu yang selama ini tidak pernah kita perhatikan, sesuatu yang tidak pernah terlintas di benak, lubuk sanu bari.

Pada kenyataannya aku bukanlah seseorang yang mudah melupakan masa lalu begitu saja. bagiku hanya ada indah saja, senyuman yang terpancar dan tawa merana yang tetap hidup dari masa lalu. kadang semua itu malah membuatku sulit menempatkannya sesuai ukuran dan kebijaksanaan. karena bagiku masa lalu adalah mungkin salah satu hal terbaik yang mampu mengajarkanku tentang sesuatu, tentang hidup. sampai pada suatu peristiwa yang mau tidak mau membuatku berpikir kembali untuk memulai menempatkan masa lewat itu sekedarnya saja, tanpa berlebihan yang sangat. *yeaah memang seharusnya demikian* walaupun peristiwa itu tetap saja meninggalkan bekas dan guratan yang lekat dan walaupun tetap tidak membuat dirinya kembali namun aku pikir tidak ada salahnya menjadi pelajaran berharga buat orang lain. [Semoga..]

Peristiwa itu sendiri terjadi sudah lewat dari tujuh tahunan yang silam, saat aku merayakan kelulusan Sekolah Menengah Pertamaku bersama teman-teman seperjuangan.. pergi ke sebuah pulau impian nun jauh disana. di wilayah ujung pantai utara khatulistiwa *pulau selimpai* Wah asyiknya.. gejolak darah muda yang terus menggelora membuat para setan tertawa hahaha..
Semakin jauh ku bercerita semakin ngakak pula setan tertawa. Kuputuskan untuk sampai disini saja, selanjutnya terserah anda...

Mungkin memang benar kata orang bijak. Jangan terlalu larut dengan masa lalu karena dia bisa menikam hidupmu dan melemparmu dari alam nyata. Bahkan seperti aku ini, membuyarkan segala yang indah dan menenggelamkan kesederhanaanku. Mungin cukup saja buat mengenangnya, Dan tidak berlebihan berleha-leha dengannya. Dia mungkin bisa menjadi guru yang terbaik tapi bisa juga menjadi guru yang buruk.

Tergantung pada diri kita sendiri

Related Post:

Belum ada komentar untuk "Tergantung pada diri kita sendiri"

Post a Comment